Rabu, 25 April 2012

Tahap=Tahap Perkembangan Anak Usia Dini



BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Sebagai orang yang dewasa sekaligus seorang pendidik, tugas yang paling utama adalah memberikan sarana dorongan belajar dan memfasilitasinya ketika ia siap untuk mempelajari sesuatu. Pada tahun awal-awa kehidupan merupakan suatu masa yang tepat bagi seorang anak untuk pembentukan dan perkembangan (perkembangan fisik, mental maupun spiritual). Oleh karena itu, orang tua dan pendidik sangat tepat untuk terlibat, mengetahui, memahami, dan mengerti perkembangan anak usia dini.
Anak usia dini adalah kelompok anak yang berada dalam proses pertumbuhan dan perkembangan yang unik. Anak memiliki pola pertumbuhan dan perkembangan (koordinasi motorik halus dan kasar), daya pikir, daya cipta, bahasa dan komunikasi, yang tercangkup dalam kecerdasan intelektual, emosional, spiritual yang sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangan anak.
Masa usia dini merupakan masa unik dalam kehidupan anak karena merupakan masa perkembangan yang paling hebat dan utama. Pendidikan anak usia dini memiliki efek kumulatif yang akan terbawa dan mempengaruhi fisik dan mental anak selama hidupnya.
Menurut Slamet Suyanto (dalam Mansur, 2005) menyatakan bahwa aspek perkembangan anak  usia dini meliputi fisik-motorik, intelektual, moral, emosional, bahasa, dan kreativitas.
Makalah ini disusun oleh penulis dengan harapan agar pendidik mengetahui aspek-aspek perkembangan anak usia dini sehingga dapat diarahkan

pada peletakan dasar yang tepat bagi perkembangan manusia seutuhnya agar anak dapat tumbuh dan berkembang secara optimal.
Dalam membantu anak agar dapat berkembang secara optimal, maka dapat dilakukan stimulasi intelektual, dan penyediaan kesempatan yang luas untuk mengeksplorasi dan belajar secara aktif.

B.     Rumusan Masalah
1.      Bagaimanakah tahap-tahap perkembangan anak usia dini menurut tokoh?
2.      Apa saja aspek perkembangan anak usia dini?

C.    Tujuan
1.      Mengetahui tahap-tahap perkembangan anak usia dini.
2.      Mengetahui berbagai aspek perkembangan anak usia dini.













BAB II
PEMBAHASAN

A.    Tahap-Tahap Perkembangan Anak Usia Dini
Menurut MONTESSORI, pendidikan dimulai sejak bayi lahir. Oleh karena itu, bayi pun harus dikenalkan pada benda-benda, orang-orang, suara yang ada di sekitarnya. Bahkan, bayi juga harus diajak untuk bercakap-cakap dan bercanda agar bayi dapat berkembang secara sehat dan normal. Menurut MONTESSORI, ada beberapa tahap perkembangan, yaitu:
1.      Lahir - 3 tahun
Anak memiliki kepekaan sensoris dan daya pikir yang telah mampu menyerap pengalaman-pengalaman melalui sensorisnya.
2.      1½ - 3 tahun
Memiliki kepekaan bahasa sehingga sangat tepat untuk mengembangkan bahasanya (berbicara-bercakap-cakap)
3.      2 - 4 tahun
Gerakan otot dapat dikoordinasi dengan baik (untuk hal yang rutin maupun semi rutin), berminat pada benda-benda kecil, menyadari urutan waktu (pagi, siang, dan malam).
4.      3 - 6 tahun
Peka untuk meneguhkan sensorisnya, memiliki kepekaan indrawi. Khusus pada usia 3-4 tahun lebih  peka untuk menulis dan usia 4-6 tahun memiliki kepekaan untuk membaca.

Sedangkan, LAVENGEVELD menyatakan bahwa tahap-tahap perkembangan anak meliputi:
1.      3½ -5 tahun
Masa pendidikan pendahuluan (menuruti dan meniru orang tua).
2.      3 - 6 tahun
Tahap Taman Kanak-kanak, yang hendaknya dicapai adalah
a.       Berbahasa lisan (berbicara, bercerita)
b.      Mengenal pola hidup keluarga (saya, keluarga, dan sekolah)
c.       Menguasai keterampilan untuk kebutuhan sehari-hari (mandi, menggosok gigi, berganti pakaian, makan, dll).
d.      Mengenal diri, keinginannya dan kehendaknya.
e.       Mulai berkhayal (tidak dapat membedakan khayalan dan kenyataan).
3.      Kelas I dan II SD
Membaca buku cerita yang ada ekspresi seninya. Mengumpulkan benda-benda kecil, dan bermain dengan teman sebaya.

B.     Aspek Perkembangan Anak Usia Dini
1.   Perkembangan Fisik – Motorik Anak Usia Dini
Perkembangan fisik motorik meliputi perkembangan badan, otot kasar (gross muscle) dan otot halus (fine muscle), yang selanjutnya disebut motorik kasar dan motorik halus. Perkembangan badan, seperti telah di jelaskan di muka meliputi empat unsur yaitu:

a.    Kekuatan
b.   Ketahanan
c.    Kecekatan
d.   Keseimbangan

Perkembangan motorik meliputi perkembangan otot kasar dan otot halus. Otot kasar atau otot besar ialah otot-otot badan yang tersusun dari otot lurik. Otot ini berfungsi untuk melakukan gerakan dasar tubuh yang terkoordinasi oleh otak, seperti berjalan, berlari, melompat, menendang melempar, memukul, mendorong, dan menarik. Oleh karena itu, gerakan tersebut di kenal dengan istilah gerakan dasar.
Perkembangan motorik halus meliputi perkembangan otot halus dan fungsinya. Otot ini berfungsi untuk melakukan gerakan-gerakan bagian-bagian tubuh yang lebih spesifik, seperti menulis, melipat, merangkai, mengancing baju, mengikat tali sepatu, dan menggunting. Berbagai kegiatan pembelajaran seperti melipat dan menggunting kertas dapat melatih motorikhalus anak. Demikian pula menggambar bebas dengan kuas besar, kuas kecil, dan mewarnai mengembangkan otot-otot halus pada jari tangan. Hal itu akan sangat bermanfaat untuk melatih jari anak agar bisa memegang pensil dan belajar menulis di kemudian hari.
Menurut Gesell dan Ames (1940) serta lllingsworth (1983), perkembangan motorik pada anak mengikuti delapan pola umum  sebagai berikut.
a.    Continuity (bersifat kontinu), di mulai dari gerakan yang sederhana menuju ke yang kompleks sejalan dengan bertambahnya usia anak.
b.   Uniform sequence (memiliki pola tahapan yang sama), semua anak memiliki pola tahapan yang sama meskipun kecepatan tiap anak untuk mencapai tahapan tersebut berbeda
c.    Maturity (kematangan), di pengaruhi oleh perkembangan sel saraf. Sel saraf telah terbentuk saat anak lahir, tetapi  proses mielinasinya masih terus berlangsung sampai beberapa tahun kemudian. Demikian pula otot

dan tulang sebagai alat gerak. Anak tidak dapat melakukan suatu gerak motorik tertentu yang terkoordinasi sebelum proses mielinasi tercapai.
d.   Umum ke khusus, yaitu di mulai dari gerak yang bersifatumuk ke gerak yang bersifat khusus. Gerakan secara menyeluruh dari badan terjadi lebih dahulu sebelum gerakan bagian-bagianya. Hal ini di sebabkan karena otot-otot besar berkembang lebih dahulu di bandingkan otot-otot halus.
e.    Di mulai dari gerak refleks bawaan ke arah gerak yang terkoordinasi. Anak lahir ke dunia telah memiliki refleks, seperti menangis bila lapar, haus, sakit atau merasa tidak enak. Refleks tersebut akan berubah menjadi gerak yang terkoordinasi dan bertujuan. Misalnya orang dewasa tidak lagi menangis hanya karena lapar
f.    Bersifat chepalo caudal direction, artinya bagian yang mendekati kepala berkembang lebih dahulu dibanding bagian yang mendekati ekor. Otot pada leher berkembang lebih dahulu dari pada otot kaki.
g.   Bersifat proximo-distal, artinya bahwa bagian yang mendekati sumbu tubuh(tulang belakang)berkembang lebih dulu dari yang lebih jauh.otot dan saraf lengan berkembang lebih dahulu dari pada otot jari. Oleh karena itu anak TK menangkap bola dengan lengan, bukan dengan jari.
h.   Koordinasi bilateral menuju crosslateral, artinya bahwa koordinasi organ yang sama berkembang lebih dulu sebelum bisa melakukan koordinasi organ bersilangan, contoh, pada saat anak TK melempar bola tenis, tangan kanan terayun, di sertai ayunan  kaki kanan. Berbeda dengan orang dewasa, justru kaki kiri yang maju, diikuti ayunan tangan kanan.

2.   Perkembangan Kognitif Anak Usia Dini
a.    Teori Piaget tentang Perkembangan Kognitif
Tahapan dalam perkembangan intelektual (kognitif) yang dirumuskan oleh piaget berhubungan dengan pertumbuhan otak. Menurut Piaget, otak manusia tidak berkembang sepenuhnya hingga masa adolesen, bahkan otak laki-laki kadang tidak berkembang sepenuhnya hingga masa dewasa awal.
Menurut Piaget, intelegensi adalah dasar fungsi hidup yang membantu organism beradaptasi dengan lingkungan. Piaget juga mengemukakan bahwa intelegensi adalah suatu bentuk keseimbangan yang menjedi kecenderungan semua struktur kognitif. Piaget menekankan bahwa anak-anak bersifat aktif dan merupakan penjelajah yang selalu ingin tahu. Piaget meyakini bahwa ketidakseimbangan antara bentuk berpikir anak dan kejadian dalam lingkungan, memaksa anak membuat penyesuaian mental yang membuatnya dapat menyelesaikan pengalaman baru yang membingungkan dan kemudian menghasilkan keseimbangan kognitif.
Piaget mendeskripsikan anak sebagai seorang kontruktivis dimana jika mereka ingin mengetahui sesuatu, mereka harus membangun pengetahuan tersebut sendiri.
b.   Tahap-tahap perkembangan kognitif menurut Piaget
Piaget mengidentifikasi empat periode utama dalam perkembangan kognitif, yaitu tahap sensorimotor (0-2 tahun), tahap praoperasional (2-7 tahun), tahap operasi konkrit (7-11 tahun), dan tahap

operasi formal (11 tahun keatas). Tahap pertumbuhan intelektual akan menunjukkan tingkat kualitas yang berbeda dari fungsi dan bentuk kognitif yang disebut tahap perkembangan Invarian, yaitu semua anak mengalami kemajuan melalui tahap dalam urutan yang persis sama tanpa melewati suatu tahap.
Menurut Piaget, urutan tahap-tahap intelektual adalah tetap, namun dia menemukan bahwa ada perbedaan individual yang besar pada tahun dimana anak masuk dari suatu tahap tertentu. Rentangan pertumbuhan intelektual anak dipengaruhi oleh factor budaya dan pengaruh lingkungan.
Tahap perkembangan anak usia dini menurut Piaget hanya berada pada tahap Sensorimotor dan Praoperasional.
1)   Tahap Sensorimotor ( 0-2 tahun)
Tahap sensorimotor yaitu tahap dimana anak berumur sejak lahir hingga sekitar dua tahun. Pada tahap ini merupakan periode dimana bayi dapat mengkoordinasikan input sensor dan kemampuan geraknya untuk membentuk skema perilaku yang memungkinkannya bergerak dalam lingkungan dan mengetahui lingkungannya.
Pada dua tahun pertama, bayi berkembang dari makhluk yang berkembang dengan reflek dan dengan pengetahuan yang sangat terbatas. Piaget membagi periode sensorimotor menjadi 6 sub tahap yang menggambarkan transisi bertahap dari organism yang menggunakan reflek menjadi organism yang bercermin pada diri sendiri.

2)   Perkembangan Ketrampilan Memecahkan Masalah
Piaget memberi ciri pertama dalam hidup bayi sebagai tahap kegiatan reflek, yaitu suatu periode dimana perilaku bayo terbatas pada latihan reflek yang alami, menambahkan obyek baru ke dalam skema refleksif, dan menghantarkan reflek kepada benda nyata. Pada tahap ini merupakan permulaan dari perkembangan kognitif.
3)   Perkembangan Imitasi (Peniruan)
Piaget menemukan adanya adaptasi peniruan yang bermakna dimana bayi tidak mampu meniru respon asli yang ditunjukkan oleh orang dewasa hingga usia 8-12 bulan. Pada usia 18-12 bulan terdapat peniruan yang tertunda, yaitu kemampuan melakukan kembali perilaku yang telah lama dicontohkan karena mereka sedang membangun mental simbolis, atau imajinasi dari perilaku contoh yang tersimpan dan dimunculkan di lain waktu. Tetapi, menurut pendapat para ahli lainnya menyatakan bahwa kapasitas untuk penundaan peniruan yang memungkinkan bayi untuk menyusun, menyimpan, dan kemudian memunculkan kembali mental simbolis ditunjukkan jauh lebih awal dari yang telah dikemukakan Piaget.
4)   Perkembangan Ketetapan Benda
Pada tahap ini merupakan suatu pemikiran bahwa benda tetap ada ketika benda tersebut tidak lagi dapat terlihat oleh indera lainnya, tetapi karena pada bayi usia 4-8 bulan sangat tergantung pada panca indera dan kemampuan motorik untuk memahami suatu benda, maka ia akan berpikir bahwa suatu benda ada apabila dapat diinderai.

Pada bayi usia 12-18 bulan, konsep ketetapan benda meningkat meskipun belum lengkap, karena anak tidak dapat membuat kesimpulan secara mental yang diperlukan untuk memahami pemindahan benda dengan cara yang tidak telihat. Selanjutnya pada usia ini bayi mampu secara mental menggambarkan pemindahan benda secara tak terlihat dan menggunakan kesimpulan mental untuk memandu pencariannya terhadap benda yang telah lama menghilang.
5)   Tahap praoperasional (2-7 tahun)
Pada saat anak memasuki tahap ini, anak telah mengalami peningkatan drastic dalam perkembangan intelektualnya pada penggunaan symbol (kata dan imajinasi) untuk menggambarkan benda, situasi, dan kejadian. Symbol merupakan sesuatu yang mewakili sesuatu yang lain.
Piaget mendeskripsikan bahwa intelejensi praoperasional berfokus pada keterbatasan anak dalam berpikir. Anak usia dini masih belum menguasai operasi kognitif yang memungkinkan mereka untuk berpikir logis.
Pada tahap ini terdapat periode prakonseptual yang ditandai dengan munculnya fungi simbolis, yaitu kemampuan membuat suatu hal mewakili sesuatu yang lain. Pada periode ini terjadi pergeseran dari keingintahuan segala sesuatu melalui tangan menuju kepada perenungan.

Bahasa merupakan bentuk yang paling jelas dari simbolisme yang diperlihatkan anak kecil. Sebagian besar bayi mengucapkan kata pertama yang bermakna pada akhir tahun pertama, dan sebelum usia 18 bulan bayi akan menunjukkan tanda lain dari simbolisme, yaitu mengkombinasikan dua atau lebih kata untuk membentuk kalimat sederhana. Perkembangan kognitif akan mendorong perkembangan bahasa anak. Bayi pada masa pralinguistik dapat membentuk kategori konseptual jauh sebelum mereka mempunyai kata-kata untuk menggambarkannya. Tanda kedua dari periode awal konseptual adalah berkembangnya bermain pura-pura.

3.   Perkembangan Bahasa Anak Usia Dini
a.    Tahap perkembangan bahasa
Dilihat dari perkembangan umur yang dikaitkan dengan perkembangan kemampuan berbahasa individu, tahapan perkembangan bahasa dapat dibedakan ke dalam tahap-tahap sebagai berikut:
1)   Tahap meraban (pralinguistik) pertama
Pada tahap meraban pertama, selama bulan-bulan awal kehidupan, bayi menangis, menjerit, dan tertawa, seolah-olah menghasilkan tiap-tiap jenis yang mungkin dibuat. Banyak pengamat menandai ini sebagai tahap bayi menghasilkan segala bunyi ujaran yang dapat ditemui dalam segala bahasa dunia.



2)   Tahap meraban (pralinguistik) kedua
Tahap ini disebut juga tahap kata omong kosong atau kata tanpa makna. Awal tahap maraban kedua ini biasanya pada permulaan pertengahan kedua tahun pertama kehidupan. Anak-anak tidak menghasilkan sesuatu kata yang dapat dikenal, tetapi mereka seolah-olah mengatur ucapan-ucapan mereka sesuai dengan pola suku kata.
3)   Tahap holofrastik (tahap linguistic pertama)
Pada usia sekitar 1 tahun anak mulai mengucapkan kata-kata. Satu kata yang diucapkan oleh anak-anak harus dipandang sebagai satu kalimat penuh sebagai rasa untuk menyatakan mau tidaknya terhadap sesuatu. Anak menyatakan “mobil” dapat berarti “saya mau mobil-mobilan”, “saya mau ikut naik mobil bersama ayah”, atau “saya mau minta diambilkan mobil mainan”.
Karena terkadang muncul kedwimaknaan dalam ujarannya, maka perlu diamati benar apa yang dilakukan anak itu, barulah kita dapat menentukan apa yang dia maksudkan.
4)   Ucapan-ucapan dua kata
Pada tahap ini pertama sekali diucapkan dalam rangkaian yang cepat. Misalnya, anak-anak yang mengucapkan “kucing” dan “papa” mungkin menunjuk kepada seekor kucing dan diikuti oleh jeda sebentar, lalu kepada papa. Maknanya akan terlihat dari urutan ‘kucing papa’. Segera setelah itu anak-anak akan mulai memakai ucapan-ucapan dua kata seperti ‘baju mama’, ‘pisang nenek’, ‘saya mandi’, dan sebagainya.

5)   Pengembangan tata bahasa
Pada tahap ini anak mulai mengembangkan tata bahasa, panjang kalimat mulai bertambah, ucapan-ucapan yang dihasilkan semakin kompleks, dan mulai menggunakan kata jamak. Penambahan dan pengayaan terhadap sejumlah dan tipe kata secara berangsur-angsur meningkat sejalan dengan kemajuan dalam kematangan perkembangan anak.
6)   Tata bahasa menjelang dewasa (tahap pengembangan tata bahasa lengkap)
Pada tahap ini anak semakin mampu mengembangkan struktur tata bahasa yang lebih kompleks lagi serta mampu melibatkan gabungan kalimat-kalimat sederhana dengan komplementasi, relativasi, dan kongjungsi. Perbaikan dan penghalusan yang dilakukan pada periode ini mencakup belajar mengenai berbagai kekecualian dari keteraturan tata bahasa dan fonologis dalam bahasa terkait.
7)   Kompetensi lengkap
Gaya bahasa mengalami perubahan dan semakin lancar serta fasih dalam berkomunikasi. Keterampilan dan performansi tata bahasa terus berkembang kea rah tercapainya kompetensi berbahasa secara lengkap
b.   Teori pemerolehan bahasa anak
1)   Teori nativis
Teori ini menyatakan bahwa faktor yang mempengaruhi perkembangan bahasa seseorang yaitu bawaan sejak lahir dan faktor

biologis, bukan bukan bentukan. Bukti mekanisme bahasa bawaan mencakup keseragaman dan keteraturan dari kecenderungan untuk menghasilkan suara. Apapun bahasa yang dipelajari anak-anak, berkembang melalui urutan yang sama, mengoceh, mengucapkan kata pertama pada usia satu tahun, menggunakan kombinasi dua kata pada pertengahan tahun kedua dan menguasai peraturan tata bahasa pada usia empat atau lima tahun.
2)   Teori kognitif
Menurut pandangan ini bahwa perkembangan bahasa tergantung pada kemampuan kognitif tertentu, kemampuan pengolahan informasi dan motivasi. Para ahli teori ini berpendapat bahwa anak-anak berpembawaan aktif dan konstruktif, bahwa kekutan internal lebih berpengaruh untuk kreativitas, kemampuan memecahkan masalah, tes hipotesis, dan usaha anak untuk menemukan peraturan ucapan-ucapan yang mereka dengar.
3)   Teori empirisme atau behaviorisme
 Aliran empirisme atau behaviorisme berpandangan  bahwa kemampuan perkembangan berbahasa seseorang tidak ditentukan oleh bawaan sejak lahir melainkan ditentukan oleh proses belajar dari lingkungan sekitarnya. Jadi, menurut aliran ini proses belajarlah yang sangat menentukan kemampuan perkembangan bahasa seseorang.
c.    Pengaruh lingkungan terhadap bahasa
Lingkungan dimana seseorang tinggal sangat berpengaruh dalam perilaku seseorang, misalnya bahasa. Dengan terbentuknya

lingkungan yang baik akan mempunyai pengaruh yang besar papa anak usia bicara, oleh karena itu hendaknya lingkunganmasyarakat lebih mengutamakan lingkungan yang baik.
Sebuah pepatah mengatakan, “anak bodoh jika dididik di lingkungan pandai, anak tersebut akan menjadi pandai.”
Banyak ahli teori berpendapat bahwa secara garis besar ibulah yang membentuk lingkungan berbahasa secara dini. Untuk  mengantisipasi menghadapi lingkungan dalam era globalisasi, hendaknya pondasi anak itu dikuatkan di lingkungan keluarga dulu, dengan bahasa yang baik dan agamis, sehingga begitu anak keluar bergaul di lingkungan yang serba campuran sebagai kelompok, budaya dan sebagainya, maka anak itu akan siap mengontrol diri.

4.   Perkembangan Moral Anak Usia Dini
a.    Pengertian Moral
Istilah moral berasal dari kata latin “mos” (Moris), yang berarti adat istiadat, kebiasaan,peraturan/ nilai-nilai atau tata cara kehidupan. Sedangkan moralitas merupakan kemauan untuk menerima dan melakukan peraturan, nilai-nilai atau prinsip-prinsip moral. Seseorang dikatakan bermoral apabila tingkah laku orang tersebut sesuai dengan nilai-nilai moral yang dijunjung tinggi oleh kelompok sosialnya.
1)   Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan Moral
Perkembangan moral seorang anak banyak dipengaruhi oleh lingkungannya, terutama dari orang tuanya. Anak memperoleh nilai-nilai moral dari lingkungannya,terutama dari orangtuannya. Dalam mengembangkan moral anak, peranan orang tua sangatlah penting, terutama

pada waktu anak masih kecil. Beberapa sikap orang tua yang perlu diperhatikan sehubungan dengan perkembangan moral anak, diantaranya:
a)   Konsisten dalam mendidik anak
Ayah dan Ibu harus memiliki sikap dan perlakukan yang sama dalam melarang atau membolehkan tingkah laku tertentu kepada anak. Suatu tingkah laku anak yang dilarang apabila dilakukan kembali pada suatu waktu,harus juga dilarang apabila dilakukan kembali pada waktu lain.
b)   Sikap orang tua dalam keluarga
Secara tidak langsung , sikap orang tua terhadap anak , sikap ayah terhadap  ibu , atau sebaliknya, dapat mempengaruhi perkembangan moral anak, yaitu melalui proses  peniruan(imitasi). Sikap  orang tua yang keras (otoriter)cenderung melahirkan sikap disiplin pada anak, sedangkan sikap yang acuh tak acuh , atau sikap masa bodoh, cenderung mengembangkan sikap kurang bertanggung jawab dan kurang mempedulkikan norma pada diri anak. Sikap yang sebaiknya dimiliki orang tua adalah sikap kasih sayang, keterbukaan , musyawarah, (dialogis), dan konsisten.
c)   Penghayatan dan pengalaman agama yang dianut
Orang tua merupakan panutan (teladan) bagi anak, termasuk disini panutan dalam mengamalkan ajaran agama. Orang tua yang menciptakan iklim yang religious (agamis), dengan cara membersihkan ajaran atau bimbingan tentang nilai-nilai agama kepada anak, maka anak akan mengalami perkembangan moral yang baik.
d)   Sikap konsisten orang tua dalam menerapkan norma
Orang tua yang tidak menghendaki anaknya berbohong, atau berlaku tidak jujur, maka mereka harus menjauhkan dirinya dari perilaku berbohong atau tidak jujur. Apabila orang tua mengajarkan kepada anak, agar berperilaku jujur , bertutur kata yang sopan, bertanggung jawab atau

taat beragama, tetapi orang tua sendiri menampilkan perilaku yang sebaliknya, maka anak akan mengalami konflik pada dirinya, dan akan menggunakan ketidak konsisten  orang tua itu sebagai alasan untuk  tidak melakukan apa yang diinginkan oleh orang tuanya, bahkan mungkin dia akan berperilaku seperti orang tuanya.
2)   Proses perkembangan moral
Perkembangan moral anak dapat  berlangsung melalui beberapa cara, yaitu:
a)   Pendidikan langsung, yaitu melalui penanaman pengertian tentang tingkah laku yang benar dan salah , atau yang baik dan yang baik dan yang buruk oleh orang tua, guru atau orang dewasa lainnya. Disamping itu, yang yang paling penting dalam pendidikan moral ini, adalah keteladanan dari orang tua , guru atau orang dewasa lainnya dalam melakukan nilai-nilai moral.
b)   Identifikasi, yaitu dengan cara mengidentifikasi atau meniru penampilan atau tingkah laku moral seseorang yang menjadi idolanya (seperti orang tua, guru, kyai, artis atau orang dewasa lainnya).
c)   Proses coba-coba (trial dan error), yaitu dengan cara mengembangkan tingkah laku moral secara coba-coba. Tingkah laku yang mendatangkan pujian atau penghargaan akan terus`di kembangkan, sementara tingkah laku yang mendatangkan hukuman atau celaan akan dihentikannya.
3)   Penalaran Moral
Mengenai Penalaran moral, (Kohlberg, 1971 dalam C. Asri Budiningsih, 2001) mengungkapkan bahwa ada kesatuan antara penalaran moral dengan perilaku moralnya. Dengan kata lain, batapapun bermanfaatnya suatau perilaku moral terhadap nilai kemanusiaan, namun jika perilaku tersebut tidak disertai dan didasarkan pada penalaran moral, maka perilaku

tersebut belum dapat dikatakan sebagai perilaku moral yang mengandung nilai moral. Suatu perilaku moaral dianggap memiliki niali moral jika perilaku tersebut dilakukan secara sadar atas kemauan sendiri dan bersumber dari pemikiran atau penalaran moral.
Penalaran moral merupakan faktor penentu yang melahirkan perilaku moral (Kohlberg,1971 dalam C. Asri Budiningsih, 2001). Oleh karena itu, untuk menemukan perilaku moral yang sebenarnya, kita hanya dapat mempelajarinya melalui penalaran moral. Dengan mengukur tingkat penalaran moral anak usia dini, pendidik akan dapat mengetahui  tinggi rendahnya moral tersebut. Penalaran moral menekankan pada alasan mengapa suatu tindakan dilakukan, dari pada sekedar arti suatu tindakan, sehingga dapat dinilai apakah tindakan tersebut baik atau buruk (Setiono,1982) .

5.   Perkembangan Sosio – Emosional Anak Usia Dini
Perkembangan sosial anak dimulai dari sifat egosentrik, individual, ke arah interaktif komunal. Pada mulanya anak bersifat egosentrik, hanya dapat memandang dari satu sisi, yaitu dari dirinya sendiri. Ia tidak mengerti bahwa orang lain bisa berpandangan berbeda dengan dirinya,maka pada usia 2-3 tahun anak masih suka bermain sendiri. Selanjutnya anak mulai berinteraksi dengan anak lain, mulai bermain bersama dan tumbuh sifat sosialnya. Perkembangan sosial meliputi dua aspek penting, yaitu kopetensi sosial dan tanggung jawab sosial. Kopetensi sosial menggambarkan kemampuan anak untuk beradaptasi dengan lingkungan sosialnya secara efektif. Misalnya, ketika temannya menginginkan mainan yang sedang  ia gunakan, ia mau bergantian. Adapun tanggung jawab sosial antara lain

ditunjukkan oleh komitmen anak terhadap tugas-tugasnya, menghargai perbedaan individual, dan memperhatikan lingkungannya.
Emosi merupakan perasaan atau efeksi yang melibatkan perpaduan antara gejolak fisiologis dan perilaku yang terlihat. Minat, ketergantungan dan rasa muak atau jijik mucul pada saat lahir, senyum sosial terlihat pada usia kira-kira 4 hingga 6 minggu. Kemarahan, keheranan dan kesedihan terjadi pada kira-kira usia 5 hingga 7 bulan, rasa malu terjadi pada kira-kira usia 6 hingga 8 bulan, rasa hina dan rasa bersalah terlihat pada kira-kira usia 2 tahun. Pada dua tahun pertama orang tua dalam keluarga, mempunyai peranan yang amat penting dan bersifat dominan dalam mengembangkan aspek sosio-emosional anak. Seiring dengan bertambahnya usia anak, maka perkembangan sosio-emosional dipengaruhi oleh kondisi lingkungan dimana anak melakukan sosialisasi. Perkembangan emosional bagi anak merupakan sesuatu yang penting, bahkan lebih penting dari sekedar perkembangan kognitif.
Para pakar telah menyakini bahwa IQ (kecerdasan otak) ternyata hanya memberi kontribusi 20%, sedangkan yang lainnya adalah kecerdasan emosional (EQ), menurut Goleman kecerdasan intelektual tak dapat bekerja dengan sebaik-baiknya tanpa kecerdasan emosional. Orang-orang yang memiliki kecerdasan emosional tinggi akan memiliki kemampuan sosial secara mantap, mudah bergaul, ramah, tidak mudah takut atau gelisah dan bersikap tegas dalam mengungkapkan perasaan mereka.
Adanya sifat egoisentrisme yang tinggi pada anak disebabkaan anak belum dapat memahami perbedaan perspektif pikiran orang lain. Menurut

anak, orang lain berpikir sebagaimana ia berpikir,hal itu ditunjukkan dari pola bermain pada anak. Sampai usia tiga tahun anak lebih banyak bermain sendiri (soliter play), baru kemudian mereka mulai bermain sejenis (parallel play), mulai bermain karena melihat temannya bermain (on looking play) dan kemudian bermain bersama (cooperative play).
Ada beberapa aspek perkembangan sosio-emosional yang perlu dikembangkan pada anak usia dini.Belajar bersosialis diri, yaitu usaha mengembangkan rasa percaya diri dan rasa kepuasan bahwa dirinya diterima dikelompoknya. Belajar berekspresi diri, belajar mengekspresikan bakat, pikiran dan kemampuannya tanpa harus dipengaruhi oleh keberadaan orang dewasa. Belajar mandiri dan berdiri sendiri lepas dari pengawasaan orang tua atau pengasuh. Belajar bermasyarakat, menyesuaikan diri dengan kelompok dan mengembangkan keterbukaan. Belajar bagaimana berpartisipasi dalam kelompok, bekerja sama, saling membagi, bergiliran, dan bersedia menerima aturan-aturan kelompok. Belajar mengembangkan daya kepemimpinan anak. Maka keluargalah berperan penting untuk mendidik anak tersebut.
Kemampuan sosio-emosional yang harus dikuasai anak usia 3-4 tahun adalah sebagai berikut: anak dapat menunjukkan ekspresi wajar saat marah, sedih, takut, dan sebagainya, bisa menjadi pendengar dan pembicara yang baik, membereskan mainan setelah selesai bermain, sabar menunggu giliran dan antri, mengenal peraturan dan mengikuti peraturan, mengerti akibat jika melakukan kesalahan, memiliki kebiasaan yang teratur.

Kemampuan yang ingin dicapai dalam aspek pengembangan sosio-emosional adalah kemampuan mengenal lingkungan alam, lingkungan sosial, peranan masyarakat, menghargai keragaman sosial dan budaya, serta mampu mengembangkan konsep diri, sikap positif terhadap belajar, kontrol diri, dan rasa memiliki.

6.   Perkembangan Seni Anak Usia Dini
Setiap manusia memiliki naluri keindahan, begitu juga anak-anak. Naluri tersebut menjadi terarah atau tidak sangat dipengaruhi oleh lingkungan sekitar anak. Pada anak usia prasekolah, kemampuan mereka dalam menangkap keindahan sedang berkembang pesat. Sat melihat, mendengar, meraba, anak akan merasa kagum, senang, bangga, dsb.
a.    Tahapan Perkembangan Seni Anak
1)   Mencoret
Secara garis besar, karakteristik tahapan mencoret ini adalah:
a)   Anak usia 18 – 36 bulan
b)   Anak-anak membuat coretan acak dan menjelajah peralatan dengan cara bermain yang menyenangkan.
c)   Penggambar menemukan dan menunjukkan objek-objek yang telah dikenalnya dalam coretan acaknya dan memberikan nama.
Coretan belum terkoordinasi      Coretan terkoordinasi


2)   Tahap Pra-Skematik
Pada tahap ini, anak mulai memahami simbol yang dibuatnya untuk menggambarkan sesuatu tetapi gambarannya biasanya tidak sesuai dengan maksudnya. Karakteristik pada tahap ini yaitu:
a)   Terjadi pada usia 4 – 7  tahun.
b)   Warna digunakan tidak berdasarkan kenyataan dan anak-anak cenderung menggunakan warna kesukaannya.
c)   Gambar orang sederhana dengan ciri-ciri utama dengan badan yang kecil dan kepala yang besar.
d)  Menggambar dengan sinar-X. misalnya menggambar rumah, maka perabot rumah juga akan terlihat.
Gambar orang berkepala besar      gambar rumah
3)   Tahap Skematik
Saat anak pindah ke tahap ini,  dia menggunakan garis, warna, dan ruanng untuk membantu melukiskan ide-idenya pada objek dan orang-orang. Karakter anak yang memasuki tahap ini ialah:
1)   Dialami ana usia 7-9 tahun.
2)   Anak-anak mempunyai skema tantang cara menggambar.
3)   Menggunakan warna dengan realistik.

4)   Sering menggunakan warna pilihan sebagai dasar pada peniruan pikiran dengan warna yang tepat pada suatu benda.
5)   Ketika menggambar orang sudah lebih proposional.
b.   Musik dan Gerakan
1)   Musik pada Anak Usia Dini
Interaksi anak dengan musik memberikan akibat yang positif dalam kualitas hidup anak-anak. Anak-anak yang membuat kegaduhan dengan memnuat bunyi-bunyian yang kurang mengenakan bagi orang dewasa sedapatnya menyalurkan energinya untuk bermain musik. Namun, jika berusaha mengetahui dengan mendengarkan secara seksama, bunyi-bunyian tersebut pendidik dapat belajar megenal dan mengapresiasi musik pada anak usia dini. Kegiatan musik dapat dikelompokkan menjadi beberapa kategori, yaitu:
a)   Menyanyi
Anak-anak senang mencoba atau bereksperimen dengan suara mereka dan bunyi-bunyi yang mereka buat. Pendidik harus menangkap dengan penuh semangat kesenangan alamiah dan antusias ini.
b)   Mendengarkan

Mendengarkan musik secara hati-hati akan membantu anak memahami bagaimana mendengarkan untuk dapat memahami lagu tersebut. Oleh karena itu sebaiknya disediakan musik yang beragam. Pemilihan musik tersebut membawa dampak pada suasana hati dan meningkatkan energi.
c)   Irama
Kegiatan irama memberikan anak-anak kesempatan untuk menjelajah bunyi yang teratur dan alunan suara musik. Contohnya dalam permaianan pok ame-ame.
d)  Memainkan alat-alat musik
Anak-anak sebaiknya diberikan kesempatan untuk bermain ritmik dengan menggunakan alat-alat musik seperti drum, triangle ataupun tamborin.  Pada awalnya akan terdengar sangat tidak beraturan, namun jika diberikan informasi dan diajarkan tentang instrumen maka hal tersebut akan teratasi. Biarkan anak-anak mendengarkan bunyi setiap alat dan bagaimana alat tersebut menghasilkan bunyi sehingga anak-anak dapat mengidentifikasi bunyi dari setiap alat musik tersebut.
2)   Tahapan Perkembangan Musik Anak
a)   Sebelum Lahir

Bayi dalam kandungan dapat mendengar suara sejak 20 minggu setelah konsepsi.
b)   0 – 18 bulan
(1)   Saat dilahirkan bayi dapat mendengar suara yang tinggi dan mereka akan terkejut oleh suara yang keras atau bunyi yang tiba-tiba.
(2)   4 minggu à mereka mengeluarkan suara lengkingan yang tinggi dan mulai menanggapi bunyi atau suara.
(3)   3 bulanà mereka dapat menanggapi musik dengan aktif.
(4)   20 minggu àmulai mengenal suara yang dikenalnya.
(5)   6 bulan àmereka mulai menirukan suara.
(6)   28 minggu à mereka akan memandang ke arah bunyi dan mengucapkan beberapa bagian bunyi.
(7)   9 bulan à mereka menanggapi lagu yang dikenal atau mengikuti pola melodi yang sudah dikenal.
(8)   1 tahun à mulai kehilangan kapasitas untuk mendengarkan suara yang melengking tetapi mulai menemukan bunyi yang teratur dan menciptakan bunyi (membanting objek setiap hari).
(9)   Beberapa bayi mengucapkan kata pertamanya pada usia 8 bulan, beberapa lainnya pada 18 bulan atau lebih. Menyanyi bersama-sama akan mempercepat proses ini.
c)   18 - 36 bulan
(1)   18 bulan

Perkembangan berbahasa dapat berkembang lebih lanjut melalui bernyanyi dan meniru. Mampu membedakan keras-pelan, cepat-lambat. Mulai menyadari tempo dan irama yang berbeda. Belajar kata-kata sederhana atau koordinasi memainkan alat musik sederhana.


(2)   3 – 5 tahun
Mencoba menyanyikan lagu yang lebih kompleks sehingga kemampuan berbahasa meningkat. Mampu mempelajari gerakan yang lebih rumit dalam mengikuti musik.
(3)   5 -7 tahun
Mengembangkan ingatan yang lebih pada musik dengan mengulang lagu dan pola dan memahami konsep lagu yang sederhana. Mereka mampu memainkan alat musik perkusi sederhana.
3)   Aspek-aspek yang dapat dikembangkan dengan musik
a)   Musik membantu anak mengelola perasaan mereka.
b)   Musik membantu perkembangan kognitif.
c)   Musik membantu meningkatkan kesehatan fisik dan mengembangkan keterampilan motorik.
d)  Musik membantu mengembangkan apresiasi pada warisan budaya bangsa.









BAB III
PENUTUP

A.    KESIMPULAN
1.   Tahap-Tahap Perkembangan Anak Usia Dini
Menurut MONTESSORI, tahap perkembangan meliputi:
a.    Lahir - 3 tahun ditandai dengan kepekaan sensoris yang dimiliki nak.
b.   1½ - 3 tahun memiliki kepekaan bahasa (sehingga tepat untuk mengembangkan bahasanya).
c.    2 - 4 tahun gerakan otot dapat dikoordinasi dengan baik , menyadari urutan waktu.
d.   3 - 6 tahun memiliki kepekaan indrawi. Khusus pada usia 3-4 tahun lebih  peka untuk menulis dan usia 4-6 tahun memiliki kepekaan untuk membaca.
2.      Aspek-aspek perkembangan anak usia dini
a.    Perkembangan Fisik – Motorik Anak Usia Dini
Perkembangan fisik motorik meliputi perkembangan badan, otot kasar (gross muscle) dan otot halus (fine muscle), Perkembangan motorik meliputi perkembangan otot kasar dan otot halus. Otot ini berfungsi untuk melakukan gerakan dasar tubuh yang terkoordinasi oleh otak, seperti berjalan, berlari, melompat, dsb. Perkembangan motorik halus meliputi perkembangan otot

halus dan fungsinya seperti menulis, mengancing baju, mengikat tali sepatu, dan menggunting yang dapat melatih motorikhalus anak.


b.   Perkembangan Kognitif Anak Usia Dini
1)   Teori Piaget tentang Perkembangan Kognitif
Tahapan dalam perkembangan intelektual (kognitif) yang dirumuskan oleh piaget berhubungan dengan pertumbuhan otak. Piaget menekankan bahwa anak-anak bersifat aktif dan merupakan penjelajah yang selalu ingin tahu. Piaget mendeskripsikan anak sebagai seorang kontruktivis dimana jika mereka ingin mengetahui sesuatu, mereka harus membangun pengetahuan tersebut sendiri.
2)   Tahap-tahap perkembangan kognitif menurut Piaget
Empat periode utama dalam perkembangan kognitif, yaitu tahap sensorimotor, tahap praoperasional, tahap operasi konkrit, dan tahap operasi formal.
c.    Perkembangan Bahasa Anak Usia Dini
Tahapan perkembangan bahasa meliputi:

1)   Tahap meraban (pralinguistik) pertama
2)   Tahap meraban (pralinguistik) kedua
3)   Tahap holofrastik (tahap linguistic pertama)
4) Ucapan-ucapan dua kata
5) Pengembangan tata bahasa
6) Tata bahasa menjelang dewasa (tahap pengembangan tata bahasa lengkap)
7) Kompetensi lengkap

d.   Perkembangan Moral Anak Usia Dini

Seseorang dikatakan bermoral apabila tingkah laku orang tersebut sesuai dengan nilai-nilai moral yang dijunjung tinggi oleh kelompok sosialnya.

1)   Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan Moral
Perkembangan moral seorang anak banyak dipengaruhi oleh lingkungannya, terutama dari orang tuanya. Anak memperoleh nilai-nilai moral dari lingkungannya,terutama dari orangtuannya. Dalam mengembangkan moral anak, peranan orang tua sangatlah penting, terutama pada waktu anak masih kecil.
2)   Proses perkembangan moral
Perkembangan moral anak dapat  berlangsung melalui beberapa cara, yaitu:

a)      Pendidikan langsung,
b)      Identifikasi,
c)      Proses coba-coba (trial dan error)

e.    Perkembangan Sosio – Emosional Anak Usia Dini
Perkembangan sosial anak dimulai dari sifat egosentrik, individual, ke arah interaktif komunal. Emosi merupakan perasaan atau efeksi yang melibatkan perpaduan antara gejolak fisiologis dan perilaku yang terlihat.  Beberapa aspek perkembangan sosio-emosional yang perlu dikembangkan pada anak usia dini, yaitu belajar bersosialis diri, belajar berekspresi diri, belajar mengekspresikan bakat, pikiran dan kemampuannya tanpa harus dipengaruhi oleh keberadaan orang dewasa, belajar mandiri dan berdiri sendiri lepas dari pengawasaan orang tua atau pengasuh, belajar bermasyarakat, belajar bagaimana berpartisipasi dalam kelompok.
f.    Perkembangan Seni Anak Usia Dini
1)   Tahapan Perkembangan Seni Anak

a)   Mencoret
b)   Tahap Pra-Skematik
c)   Tahap Skematik


2)   Musik
Kegiatan musik dapat dikelompokkan menjadi:

a)   Menyanyi
b)   Mendengarkan
c)   Irama
d)  Memainkan alat-alat musi

3)   Tahapan Perkembangan Musik Anak

a)   Sebelum Lahir
b)   0 – 18 bulan
c)   18 - 36 bulan
d)  3 – 5 tahun
e)   5 -7 tahun


4)   Aspek-aspek yang dapat dikembangkan dengan musik
a)   Musik membantu anak mengelola perasaan mereka.
b)   Musik membantu perkembangan kognitif.
c)   Musik membantu meningkatkan kesehatan fisik dan mengembangkan keterampilan motorik.
d)  Musik membantu mengembangkan apresiasi pada warisan budaya bangsa.

B.     SARAN
Sebagai seorang pendidik, kita harus mengetahui perkembangan-perkembangan pada anak usia dini. Sehingga dapat mengambil keputusan yang tepat  dalam menentukan cara yang terbaik untuk mendidiknya sehingga ia mendapat pendidikan secara optimal. Pengambilan keputusan yang tepat

dalam mendidik anak akan sangat berpengaruh terhadap perkembangan ketika anak itu dewasa.

DAFTAR RUJUKAN

Suryanto, Slamet. 2005. Dasar-dasar Pendidikan Anak Usia Dini. Yogyakarta: Hikayat Publishing.
Mansur. 2011. Pendidikan Anak Usia Dini dalam Islam. Jakarta: Pustaka Belajar.
Yusuf, S. 2006. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Aisyah, Siti, dkk. Perkembangan dam Konsep Dasar Pengembangan Anak Usia Dini. Universitas Terbuka.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar